Kau yang Menyapaku Sore Itu

Kau menyapaku sore itu. Senyumanmu melambai. Waktu lantas berbisik padaku; inilah saatnya! Inikah saatnya? Hatiku yang selalu ragu mulai bertanya. Aku harus merangkai ungkapan yang sempurna, hatiku berkata. Tapi apalah arti ungkapan yang sempurna jika lidah mati rasa? Waktu lantas berlalu. Dengan kesal, tentu saja. Aku bahkan tidak sempat melambaikan kembali senyumanku. Apalagi menjabat tanganmu, dan bertanya apakah suami dan anak-anakmu baik-baik saja. Kau pernah bilang pada pertemuan terakhir kita yang melelahkan; inilah ini sebagaimana adanya. Aku tidak suka teka-teki tapi matamu selalu saja labirin yang menyimpan seribu rahasia. Aku tersesat di dalamnya. Di manakah kau sembunyikan cintaku? Sebab terakhir kali aku mengetuk pintumu tiada suara yang menjawab salamku. Hanya tawa-tawa riang anak-anak dan desahan-desahan samar di balik jendela. Aku pun berlalu bersama waktu. Dengan kesal, tentu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s