Larut Dalam Cahaya

Kau menantiku sepanjang hujan yang rintik-rintik itu, ditemani matahari yang malu-malu. Tanpa sendu, kau duduk membaca buku. Buku itu memelukmu dengan hangat, dan kau larut dalam mimpinya yang pekat. Aku berjalan cepat. Tak ingin kau hanyut dalam luka dan akhirnya dimangsa lupa. Namun senja menahan langkahku, dan hujan terus saja menangis tersedu-sedu.

Pada akhirnya kenangan akan menemukan jalannya untuk mengetuk pintumu sekali lagi. Rasanya memang menyedihkan. Aku kembali membuang namaku begitu saja, dan tenggelam dalam cahaya lampu jalanan yang muram. Malam bergerak lamat dan lambat, meski nafasnya memburu. Seperti kematian yang tersendat, dalam bayangan malaikat yang kelabu.

Aku tak ingin pergi. Meninggalkanmu dalam siksaan suara-suara yang tak tahu meneriakkan apa, hanya tahu memberimu duka. Malam mulai merayapi kakimu. Angin berganti arah, dan tiba sehembus hawa dingin yang beku. Aku mengendarai nafasku yang berhembus buru-buru. Ketika aku tiba di penghujung jalan, malam telah menjadi matamu. Aku coba kan senyuman untukmu. Kau ragu. Lantas terbitlah bulan itu. Membalas senyumanku.

Kita pun larut dalam cahaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s