Aku telah meninggalkan dunia dengan segala ruang dan waktunya, untuk dapat hidup bersamamu. Ucapmu pada suatu malam yang baru berjalan selangkah. Seperti sebuah janji, atau semacam keteguhan hati. Lantas bagaimana aku akan membawakanmu remah-remah hujan padahal hari telah cukup senja? Namun aku tetap akan berusaha, setidaknya agar hujan itu tidak menjelma airmata. Pada matamu yang seindah permata, sebening embun muda, dan seteduh lambaian daun-daun hijau pada pertengahan musim semi yang penuh cinta kita.

Aku telah meninggalkan segala lara; luka dan duka, untuk dapat dengan penuh berenang dalam dalam bahagiamu. Seperti sebuah arloji, yang selalu tabah mengeja waktu. Seumpama suatu senja, yang selalu kembali dengan senyuman yang sama. Aku pun rindu kepada suatu musim di mana bunga-bunga melimpahkan wewanginya pada kita. Sedang kita tertawa-tawa dengan hati yang kenang, juga tenang. Kita membuang ingatan-ingatan akan tatapan yang api dan segala laku yang topan. Kita menjadi lupa, dan Lupa memangsa kita.

Aku telah menangguhkan segala badai yang menghadang laju perahumu menujuku. Agar setiba dirimu di bibir pantai, ombak menari-nari riak dengan riang dan kita dapat menakar bintang-bintang seperti kita menakar segala kerisauan dan kepulangan. Camar-camar melambaikan senyuman. Aku bersamamu di tanah ini; menuliskan cerita-cerita dan cinta-cinta, juga janji demi janji, yang semoga Langit akan tepati.

#puisi – at Indomaret Point

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s