Izinkan aku sejenak melupakanmu
Menyimpanmu rapi dalam baris-baris buku catatanku
Mungkin pada suatu senja yang tak lagi berwarna sama
Aku akan membukanya dan membacamu kembali
Sembari memapah kenangan dalam satu dua puisi

Izinkan aku, memendammu
Bersama dendam
Yang belum tuntas kau cumbukan padaku
Belum penuh kau pelukkan padaku
Sedang bintang tengah meninggi

Izinkan aku, menoreh sesajak luka pada nisan yang bertuliskan namamu
Di suatu sudut sepi, di hati yang menunggu mati
Mungkin pada suatu siang tanpa amarah aku akan menengoknya
Dengan segenggam bunga, juga cinta yang mekar terlalu muda

Sampai kapankah waktu mengikat ingatan?
Ombak-ombak pecah di kepalaku,
Dan kau terombang-ambing dalam badai
Melambai-lambai
Tapi aku tak mengenalmu, tidak kali ini
Setelah rindu itu aku jadikan tinta-tinta baru, untuk menggariskan suatu cerita
Yang hanya namamu saja
Lalu aku menutupnya
Di penghujung malam
Bersama angin yang menghembuskan doa-doa patah dan latah ke hariban langit tertinggi
Sedangkan aku terperangkap dalam mimpi tanpa pertanda, tanpa cinta.

#puisi – at Setia Budi One

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s