Aku Mendengar

Aku mendengar suaramu serupa semilir angin senja
Kepak samar burung camar waktu pulangnya
Dan karang yang memeluk ombak
Serta Lambaian seorang perempuan
Menanti pulang sang nelayan

Lalu kerlap kerlip bintang meriuh
Aku berharap ada satu untukmu yang jatuh

Aku mendengar degup jantungmu dibalik gemerisik dedaunan
Dalam urat nadi dunia
Mengalir lewat pembuluh pohon-pohon dan rerumputan
Aku damai di tanah ini
Memelukmu dengan rindu

Aku mendengar sayup-sayup lantunan awan
Terasa manja dengan putih yang sempurna
Terasa lembut
Selembut tangan kananmu yang membelai pipiku selepas hujan sore itu

Aku mendengarmu menyebut namaku
Di antara sosok-sosok yang berdiri tegak, angkuh dan riuh
Lebih riuh dari dendam yang tertanam dalam

Sudah lama aku terjebak sunyi
Meski burung-burung masih tetap bernyanyi setiap pagi
Dan sekepul kopi masih menanti

Aku masih mendegar suaramu
Suaramu satu-satunya yang hidup dalam kepalaku
Kenangan-kenangan yang mulai abu-abu
Dan cinta yang sudah entah serupa apa

Suatu hari aku ingin mendengar sunyi ini
Bersamamu
Hanya denganmu
Sampai mati.

Iklan

2 pemikiran pada “Aku Mendengar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s