Pada Suatu Maghrib yang Berteriak Riuh

Aku memandang langit yang jauh

Di bawahnya, jalan-jalan penuh dengan berbagai peluh

Dari kendaraan-kendaraan dan orang-orang mengeluh

Dengan sabar perlahan awan-awan datang meneduh

Seorang pemuda berbicara dengan bahasa kera

Tertawa-tawa dan menyebutnya sebagai logika

Menahan dan menangkis kata dengan mencela

Menyerang dan menghambur segala rupa

Aku kini enggan tersenyum dan berlalu

Aku menata kembali akal dan hatiku

Di penghujung sana, ada petunjuk yang menungguku

Petunjuk yang takkan sampai padaku jika aku hanya termangu

Aku mesti berjalan

Melalu halaman demi halaman

Belajar dari pengalaman dan pengkhianatan

Menuliskan kebohongan dibalik kejujuran

Menemukan kejujuran pada rimbunan kedustaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s