SUATU SORE KETIKA KAU DATANG

Sore yang ramai berbincang-bincang bersama buku. Aku menemukanmu lagi, kali ini di tengah tumpukan surat-surat yang entah sejak kapan ada di situ. Namun kali ini kau melupakan kacamatamu, dan aku dapat melihat matamu yang sesungguhnya; mata tanpa cinta.

Meski kau hiasi dirimu dengan lukisan-lukisan yang mampu menampung seribu warna, aku tetap dapat menangkap warna matamu. Dan itu bukan warna rindu.

Malam mungkin dapat dengan sigap menutupimu, membuatmu tampak lebih bercahaya dan detak nafasmu jauh lebih terasa. Marilah kita bermain bintang! Aku kan menusukkan satu ke hatimu, dan kau akan mengalungkan ciuman padaku.

Apa yang bersembunyi di balikmu? Mungkin itu sesuatu yang purba, yang kadang dapat membuatku bahagia, namun tak jarang pula menempelkan luka.

Sehingga embun terakhir akan pergi, tinggal kau sendiri. Di sudut hari ini. Tanpa sesuatu yang berarti untuk kukenang. Aku melihat daun-daun itu sebagai hatimu, dan kini tengah musim gugur.

Mungkin aku harus mati dalam musim dingin, untuk kemudian menyemikan tubuhmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s