12 PUISI UNTUK JELYTHA

PAGI 1

Aku melihat embun di matamu

Aku mendengar gemericik alir air di hatimu

Angin pagi membawa mimpimu semalam

Menemu cinta yang entah di nama siapa

Kau katakan akan setia, meski

Hujan melunturkan semua airmata

Dan airmata mengguyur seluruh kota

Kau katakan akan tetap setia

Meski awan tak lagi menawan dan kasih

Sayang terhempas sampai ke awan

Kau katakan akan terus tetap setia, meski

Presiden diganti

Berkali-kali dan aku pergi dan kembali

Aku melihat cahaya pagi di matamu

Aku mendengar kicau murai berderai di hatimu

Angin selatan membawakan kerinduan

Kekasih nun jauh di seberang lautan.

PAGI 2

Mungkin aku hanya sehembus angin

Yang mengalir manja di sela kepak elang

Tanpa pernah kira, cintakah mana yang

Menjaganya tetap terbang

Atau mungkin setetes embun

Ibu yang anggun, yang rela lepas dan pergi

Setelah memberi kebahagiaan yang pantas bagi pagi

Atau mungkin sinar rembulan

Cahaya suci yang kau inginkan

Namun setelah ramah membelai pipimu penuh tangisan

Melerai dan membunuh kesedihan. Kau lupakan.

PAGI 3

Aku bertemu pagi yang letih setelah membunuh malam

Senyumnya kuyu matanya sayu

Di hatinya masih ada jejak-jejak hitam

Semoga dia masih sempat, meyampaikan cintaku pada alamat yang tepat

Rumahmu yang selalu kuingat

Aku bertemu embun yang rimbun

Bercanda dengan dedaunan yang anggun

Menyanyikan cinta dan lagu-lagu lama

Lagu ketika kita masih berdua

PAGI 4

Kau melayari mimpi dan terbangun pada pagi. Hari masih berwarna, belum ditikam polusi

Cahaya pertama menyentuh hatimu, menyentak cinta yang kau simpan dari malam

Sudahkah kau tinggalkan rindu itu pada tidurmu? Atau malah kau

Tanggalkan diriku pada kenanganmu?

Tak perlu terburu-buru, milikmu waktu sehari penuh untuk mencari gaduh dan mengais riuh

Agar kesepian yang memelukmu takkan membunuh

Matamu terbuka, cahaya mulai bergerak darinya

Perlahan-lahan. Seperti tangis-tangis kerinduan, seperti cuap-cuap kemesraan

Tanganmu terbuka, kau peluk takdir tanpa resah yang nyinyir

Kau kecup dia, yang membawa hidupmu kepada akhir.

PAGI 5

Cinta mengetuk pintuku pagi ini

Setelah selesai menidurkanmu malam tadi

Tapi dia datang dengan Kebencian

Daun-daun gugur dari negeri seberang

Mereka berdua sahabat karib, menyalamiku dengan nasib

Aku suguhkan teh terakhir yang aku punya, dan

Sedikit sarapan cahaya pertama

Cinta berkisah tentang perjalanannya

Ketika dia mengunjungi hatimu sembunyi-sembunyi

Kebencian pun bercerita, dia

Meninabobokanmu ketika Cinta tak mampu lakukan itu

Kata mereka, kau gadis yang

Menangis sampai pagi. Tapi, pagi yang mana?

Bukankah semua pagi adalah milikku?

Aku lupa menanyakan kabar senyumanmu

Masih semanis hujan itu kah kini?

Cinta bilang, dia menghiasai hatimu dengan namaku

Hal yang sama dilakukan Kebencian

Padanya.

SENARAI PAGI

Senarai pagi beriring dengan embun-embun perawan dan rindu yang tiba-tiba lepas ke awan

Aku terbangun, dan menyadari bahwa aku masih bertanya-tanya

Cintaku terdampar di pantai siapa?

Sehelai airmata titik ke tanah, rindu membasah

Awan abu-abu membawa sebuah nama, dari negeri yang entah ada di hatimu yang mana?

Sesederhana itukah kasih; rindu yang perih, dan pisau waktu yang membunuh setiap pagi

Senarai pagi menyusupkan senyumanmu ke dalam mimpiku

Aku terjaga dan mendapati diriku tengah beradu mesra manja denganmu, mimpiku

Waktu duduk bersama kita

Menikmati kopi yang kau seduhkan bahagia, dari mimpiku

MENCIUM PAGI

Aku mencium pagi dan waktu mulai tertatih-tatih mengejarku

Aku yang berlari tanpa sayap, tanpa angin dan tanpa kaki

Menuju sebuah pulau, nun jauh di seberang mimpi

Aku memeluk embun, agar rinduku pada hari-hari tanpa rindu

Bisa sedikit lepas dan terbang

Semoga singgah di suatu tanah

Yang harum seperti namamu yang berdarah

Aku ingin ke sana, membawa bunga-bunga dan airmata.

ANGIN PAGI

Angin pagi menyapaku yang sendiri. Aku bertanya
Apakah kau membawa salam kekasihku?
Bukannya aku tak punya telepon untuk menghubungimu
Tapi di manakah kau sembunyikan suaramu?
Di daun-daun akasia, atau nafas-nafas sepenggal usia
Kata angin aku telah mengaliri berbagai macam hati
Mencium aroma rambut para bidadari
Tapi tak ada satupun yang bernama seperti namamu
Lantas kau bersembunyi di mata siapa?

Bahkan petualanganku di dunia maya belum cukup ampuh untuk

Menemukan semilir yang dulu pernah membawaku ke mimpi-mimpi terjauh

Hati yang renyuh, dan lambaian nyiur pulau-pulau teduh

Hingga aku hanya bisa memeluk kerinduan yang enggan memelukku

Menyeduh tangisan yang tumpah dalam buku-buku

HAL YANG KULAKUKAN DI PAGI HARI

Aku bangun dan berusaha mengingat hal lain

Kau kusimpan dalam lemari baju, bersama baju-bajumu untukku itu

Aku memotong kukuku pagi ini. Memangkas yang tak perlu dari kenangan

Agar dia tak sampai mencakar sampai ke dalam hati

Aku menulis pagi ke dalam diari, kata-kata indah yang kau sebut puisi namun lebih terasa bagai janji mati

Kau sangka abadi?

Aku mengepang rambutku, agar airmata tak terurai dan membeku

Membeku seperti kamu

Aku menyapu halamanku, agar hal-hal kotor tersingkir dari kehidupanku

Apalagi kamu

Pagi menghadiahiku matahari, kau pun menghadiahiku itu. Tapi cuma buku, dan palsu-palsu

Aku ingin sarapan

Sedikit mengecap kebahagiaan yang kuoleskan pada sepasang roti yang begitu mesra seperti kamu dan aku. Dulu. Setelah itu

Aku akan mandi, agar dari kepalaku kau benar-benar pergi

Dari kerinduanku kau benar-benar mati.

HUJAN JATUH SATU-SATU…

Hujan jatuh satu-satu seperti airmata

Yang tak tahu mesti mengalir dari dan ke mata siapa

Burung-burung tak dapat pulang. Sebagian terperangkap badai

Sebagaian kuperangkap dalam hatiku

Sebagai penggantimu. Malam gelap seperti biasa

Rindu menyiksa luar biasa. Maut menggelitik dada

Tangan menggapai-gapai. Cinta kah di atas sana?

Atau hanya fana, hanya hampa.

Hujan masih jatuh, dan aku masih menunggumu

Meski aku tau, bukan rumahku yang akan kau pulangi

Dan bukan hatiku yang akan kau singgahi

Angin menerbangkan seekor daun ke utara, ke arahmu pergi entah kemana

Aku takkan bertanya kapan kembali, yang aku takutkan bila kau kembali dalam mati

Aku takkan mampu menangisimu, aku tak setabah hujan.

Hujan tetap jatuh. Siang mulai pergi menjauh

Mungkin ke negeri yang sama tempatmu pergi. Negeri tanpa kembali.

Tapi siang akan kembali, aku akan mengingatmu lagi

Setelah semalaman berusaha membunuhmu dalam mimpi

Tapi aku tak tau. Aku tak setangguh hujan.

PUISI MALAM

Malam mengajariku banyak kata-kata

Namun lebih banyak memberiku luka

Aku tertawa di pangkuannya, menangisi hidupku yang terlalu sempurna

Sampai tak munkin lagi disempurnakan olehmu.

Malam mengajariku banyak cinta, seperti dirimu, seperti puisi, seperti angin, seperti hujan

Namun, di manakah dia menyimpan rindu?

Hingga aku tak mampu lagi merindukanmu

Mungkin di bawah bantal, mungkin juga terkubur paling jauh di palung paling palung dalam hatimu

Malam mengajariku menulis cerita

Tapi aku tak mau menulis cerita cintamu

Sebab banyak airmataku tercecer di situ

Bersama airmata-airmata lain yang entah siapa, entah dari mana.

Aku ingin menulis dongeng

Agar derita semenderita apapun akan berakhir bahagia?

Mungkinkah hidup sesederhana buku-buku?

Hingga aku akan tenggelamkan hatiku bersama malam.

HUJAN YANG MEMALAMKAN

Hujan perlahan memalamkan hatiku
Angin yang semula bergerak cepat kini masuk dan istirahat
Dia menyerahkanku pada Tuhan
Yang memanjakanku dengan hujan
Menumbuhkan cinta, lebih semi
Dari bunga sakura di negeri sana
Ada harapan di setiap rinainya, melesap masuk
Mengindahkan mimpiku dengan lagu-lagu Mu
Hujan betah meneduhiku, dan aku betah memelukmu
Hingga malam terbangun oleh subuh yang berbisik
Lewat menara-menara masjid.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.nb; puisi-puisi ini adalah puisi yang dipinta oleh seorang akhwat kenalanku
Iklan

Satu pemikiran pada “12 PUISI UNTUK JELYTHA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s