SUBANG

Sudah lama sepatuku ingin bertualang di Subang. Suatu hari yang jakarta seperti biasa, televisi yang menayangkan lawakan, sensasi, dan korupsi yang itu-itu saja, aku dan kawanku memulai perjalanan. Jalan berkelak-kelok seperti cinta yang dipapah seorang buta. Melewati gunung demi bukit, kabut dan kebun teh sepanjang mata. Menelusuri kehidupan yang bernafas di kota subang, menjajaki orang-orangnya yang riang, dan makan-makan di emperan. Kami ingin menemui seorang rindu, perempuan yang selalu berselimut warna ungu dan cerita-cerita sendu. Ingin kami mendengar dongeng-dongeng romansanya yang lugu. Tentang seorang pangeran, dan sekotak kehidupan. Kehidupan tanpa kesepian yang selalu menidurkannya di malam-malam kota subang.

Kami tiba sejenak sebelum petang, kami berjalan dan sampai di hati yang menanti. Sebelum sempat membunuh diri dalam tidur dini, dia telah mengajak kami berlari. Lalu kami kembali berjalan, aku, kawanku, dan anggun yang melangkah kecil di depan. Menuju curug di kedalaman hutan pasundan. Air terjun dari langit, kami menuju airterjun di pedalaman bukit. Ketika kami tiba hari telah senja, seperti nama yang gadis itu puja. Curug itu memperlihatkan sebuah dunia yang lain, dunia yang penuh rasa dingin, sakit, kenikmatan, dan sesuatu yang membuat gadis itu merentangkan tangan memeluknya dengan harap sedalam tangisan yang terpaksa dia telan setiap malam. Cinta memang menyakitkan bagi sebagian orang. Layaknya Sangkuriang mencintai Dayang Sumbi, cinta datang dengan senyum kematian dalam setiap sepi.

Esoknya ketika hari masih belia kami telah kembali berjalan, setelah pada malamnya kami tidur beralaskan kedinginan, nyamuk, dan langit hitam malam. Hanya satu yang membuat aku tetap hangat, cintamu. Pada hari ini, aku dan kawanku pergi duluan. Tanpa Sephiria sang penunjuk jalan. Aku rasa, dia masih terbelenggu kerinduan. Nun jauh, kami pun berhenti mengayuh dan tiba di sebuah tempat penuh peluh, penuh panas yang penuh. Ciater, begitu penduduk desa menyebutnya, begitu pula orang-orang Arab, Cina, dan kuli-kuli Kota menggumamkannya. Gumaman yang penuh harapan, apakah kepada Tuhan? Aku tak tahu. Hari menjelang siang ketika saudariku akhirnya datang, membawa sebekal harapan. Tanpa harapan, dunia adalah kuburan. Tanpa kuburan, dunia sia-sia memiliki harapan. Lagi-lagi kami beranjak pulang ke Subang ketika langit mulai tampak hitam.

Lalu kami di sini, di bis kota yang sesaat lagi akan pergi. Adakah yang tertinggal? Mungkin hatiku, mungkin hatimu. Sephiria mengajak kami bersama seorang pipit yang tampak lugu, adapun hatinya hanya Tuhan lah yang tahu. Lalu mulai berlari, lagi. Kami kembali ke kota kami, kota polusi dan ingkar janji. Kapankah lagi kami sempat bermain dengan Subang, bermain dengan cintanya yang tenang.

Iklan

3 pemikiran pada “SUBANG

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s