MELANKOLIS

Aku duduk disini di antara mata mata yang berjalan menuju arah yang sama menuju langit

menuju kilau awan yang sengit menuju sergah petir yang pahit

Aku tahu mimpi adalah diriku dan kenyataan itu membuatmu enggan merajut kenyataan bersamaku

dan aku pun selalu berjanji ingin lepas dari kenyataan itu namun ternyata aku hanya

seperti para calon pemimpin negeri ini yang batu

Ada yang memangil manggil dan kurasakan ia adalah malaikat maut dengan

sabitnya yang gigil sebab bukankah kehidupan terakhir yang kupunya telah kuberikan padamu

Aku tak bisa tertawa lagi setiap kali aku tertawa yang terdengar hanyalah tawa yang menertawaiku

mengapa aku memberimu sepasang sepatu yang malah kau gunakan untuk menuju lelaki itu

Aku tahu aku tak tahu apa apa tentang aliran sungai sungaimu darimana kah

ia berasal dan kemana kah ia menjalar selama ini aku selalu menyangka

itu adalah akibat buah semangka yang pecah memecahkan masa lalumu namun kau

selalu tak suka dan mengataiku banyak prasangka

Hidup kita kini hanya menjadi berlembar lembar rahasia beribu ribu sampah usia

Kini aku menujumu dan kan mencarimu di sela sela dahan yang gugur

bersamaan dengan amarah ini semoga kau masih menyimpan beberapa gelas air mata sebab aku dahaga
aku kehilangan kata

Iklan

Satu pemikiran pada “MELANKOLIS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s