Aku, Stasiun, dan Sore Hari


***

I.

Siapa yang datang dan siapa yang pergi? Di kejauhan, awan mulai memerah. Angin dingin mulai memeluk tubuh-tubuh yang berhimpitan dalam letih dan lelah ini. Setiap orang membawa dunianya sendiri-sendiri di tangannya. Sedangkan duniaku tertinggal di kamar tidurmu.

II.

Banyak cerita yang tertampung dalam satu mata. Pada suatu tanda tanya aku menemukan seribu jawaban yang menusuk. Apa sore selalu semerindu ini? Kereta datang dan pergi dengan gempa dan gemuruh. Sedang aku datang dan pergi memanggul luka yang penuh.

III.

Aroma kopi dan roti di sudut sepi. Duniaku adalah candu bagimu. Tapi aku harus pergi sebelum matahari kembali. Kita sudah berjanji untuk tidak menghirup pagi yang sama. Namun sore ini aku terjebak dalam babak-babak yang malu-malu itu.

IV.

Ada senyum yang menikam mataku. Serupa sekuntum rindu yang ragu-ragu. Siapa yang datang dan siapa yang pergi? Setiap cerita selalu punya tanda tanya, dan setiap tanda tanya akan aku buka demi suatu cerita. Tidak, ini bukan rahasia. Ini cuma bisik-bisik semata, yang mesra dan sedikit manja. Akan segera hilang begitu malam tiba.

V.

Angin semakin syahdu. Aku semakin sendu. Aku masih punya sekotak air mata. Haruskah aku tuangkan semuanya di sini? Di tengah himpitan kelelahan dan keletihan ini, yang berbondong-bondong mendorong kereta, yang merobek menembus malam, yang tetap diam memikul angin, yang selalu datang bersama dingin, yang beku seperti matamu, yang masih setia dengan rahasia, yang sudah usang tertimbun usia. Lambaian selamat datang selalu mengalun di sini, tapi siapakah kelak yang akan mengucapkan selamat tinggal?

Iklan

Catatan-catatan Yang Datang Padaku di Hari Ini

Aku pernah merasa akan menemukan cinta pada suatu tatapan mata. Namun hari-hari berlalu dan waktu tetap saja bisu. Hariku-hariku kini adalah rindu. Tapi rindu ke pada siapa? Rindu ke pada apa? Aku tidak pernah benar-benar tahu. Hanya sekelebat hasrat semata. Yang datang saat malam menjelang, dan pamit saat pagi tiba. Tanpa ada tanda, tanpa kecupan perpisahan apa-apa. Hanya gelora di dada, yang menemaniku melalui mimpi-mimpiku yang beku. Di mana dirimu adalah bidadarinya, sekaligus juga ketakutan-ketakutannya. Aku tak pernah benar-benar tahu.

Aku pernah merasa akan menjadi cinta pada suatu pelukan mesra. Namun hanya kehampaan yang ada. Memelukku dengan isaknya. Kepadaku ia bercerita, tentang rindu-rindu manusia. Rindu-rindu itu palsu, katanya. Apakah dirimu dapat meredam gelora hasrat yang ada di dadaku, tanyaku. Bisa saja, namun kau manusia, dia berkata. Kau akan merindukan rindu itu. Matahari meninggi, merangkaki hari yang bisu. Sedangkan aku masih saja larut di dalam semu. Tanpa ada dirimu di sana. Dirimu yang dahulu adalah kata-kata cinta, namun kini hanya senyumanmu yang tersisa. Apakah masih ada pintumu yang terbuka? Bagiku, bagi mimpi-mimpiku, bagi geloraku yang bisu. Aku tidak akan lagi  berkawan pura-pura dan tanda tanya. Segala sesuatunya akan aku selipkan di hatimu. Namun ke mana arah pandanganmu itu? Bukan ke hatiku.

Aku pernah merasa akan menjadi satu, denganmu. Dalam irama-irama yang hangat dan menggebu. Dalam detak-detik yang rapat dan laju. Dalam sentuhan-sentuhan lekat dan desahan yang ragu. Namun ke mana arah kerlinganmu itu?  Sudahlah. Sampai di sini saja. Semoga kau bahagia!

Kau yang Menyapaku Sore Itu

Kau menyapaku sore itu. Senyumanmu melambai. Waktu lantas berbisik padaku; inilah saatnya! Inikah saatnya? Hatiku yang selalu ragu mulai bertanya. Aku harus merangkai ungkapan yang sempurna, hatiku berkata. Tapi apalah arti ungkapan yang sempurna jika lidah mati rasa? Waktu lantas berlalu. Dengan kesal, tentu saja. Aku bahkan tidak sempat melambaikan kembali senyumanku. Apalagi menjabat tanganmu, dan bertanya apakah suami dan anak-anakmu baik-baik saja. Kau pernah bilang pada pertemuan terakhir kita yang melelahkan; inilah ini sebagaimana adanya. Aku tidak suka teka-teki tapi matamu selalu saja labirin yang menyimpan seribu rahasia. Aku tersesat di dalamnya. Di manakah kau sembunyikan cintaku? Sebab terakhir kali aku mengetuk pintumu tiada suara yang menjawab salamku. Hanya tawa-tawa riang anak-anak dan desahan-desahan samar di balik jendela. Aku pun berlalu bersama waktu. Dengan kesal, tentu saja.

Pada Suatu Catatan Usang di Hatiku

Aku memejamkan mataku. Perlahan, datang suara-suara masa lalu. Beberapa serupa mimpi. Beberapa adalah janji. Mataku tetap terpejam. Hatiku tetap terdiam. Hanya rinduku, yang lantang berteriak. Menembus batas-batas waktu. Mencari dirimu. Yang dahulu hilang bersama angin pagi. Meninggalkan sekeping hati di depan pintu.

Aku adalah keinginan yang tertidur di awal malam. Hanya mampu melayari mimpi demi mimpi. Janji demi janji. Haruskah aku menyerah? Mampukah aku menyerah? Malam begitu erat memeluk. Nafasku pun turut takluk. Sedangkan dirimu bermain bersama angan-angan.

Tiada lagi kenangan yang dapat aku ceritakan. Tiada lagi semenjak kau lupa ingatan. Hanya buku-buku yang menjadi saksi bisu. Catatan-catatan lama di mana kita sempat menitipkan cinta. Ada juga beberapa luka di sana. Luka yang semakin menua. Hingga kini mulai menjelma ampas-ampas senjakala. Kemudian hilang dikecup malam.

Semuanya hilang. Semuanya menjadi malam. Semua menjadi luka yang redam oleh diam.

Pada Suatu Pagi di Mana Aku Menanti

Kicau burung-burung itu telah berlalu. Menghilang bersama rindu yang semula rindang. Rindu yang kini tinggal radang. Aku duduk di samping namamu. Kuceritakan petualangan-petualanganku. Kau menjawabnya dengan bisu. Sesekali angin berhembus menambah syahdu. Juga semakin memerihkan rindu.

Dunia bermula dari kata-kata, dan berakhir dengan tanda tanya. Pada kita yang fana, pada rasa yang hampa. Ke mana lagi aku mesti memanggul kenanganmu? Daun-daun itu pun telah lama jatuh, menahan pilu.

Untukmu yang Datang di Mimpiku Pagi Ini

Di sinilah segala macam jenis cinta itu mekar berbunga

Di bawah sinar matahari yang rindu akan pelukan pagi

Angin yang berhembus

Mengembuskan kata-kata

Ungkapan-ungkapan rindu yang selalu saja syahdu

Di sini aku membaca pertanda

Aku juga mengeja air mata

Semua luka aku catat

Dalam buku harian usang bersampul biru

Buku yang berjudul namamu

Aku bukanlah pemimpi

Apalagi penanti

Aku adalah pengkhayal yang mengkhayalkan pelangi

Perahu layar dan danau di tengah hutan yang sunyi

Aku ingin kau membebaskanku dari malam

Aku melihat senja jatuh di matamu dan aku mencintai itu

Aku ingin aku membebaskanmu dari dendam

Di sini cinta bukan hanya akan menjelma tawa

Melainkan setiap kata yang ada adalah makna

Makna yang merdeka.

Kepada Hujan Ini

Kepada hujan ini aku ingin bercerita. Kegelisahan yang merayap menguasai diri sejak semalam. Ada dirimu di sana. Dalam kepasrahan dan kepalsuan. Dengan rindu dan dendam.

Ada diriku di sana. Dengan cinta yang kau sembunyikan. Dengan harapan yang coba kau kubur dengan tangisan. Kepada hujan ini aku menyanyikan sendu. Tentang pikiran-pikiran yang asing. Tentang kesunyian yang begitu bising. Pada akhirnya hanya ada apa? Ada dan tiada satu dalam semu. Aku dan kamu hanya kita yang membisu.

Dingin ini menelanjangiku. Kepada Hujan ini aku menggerutu. Masih cukupkah waktu untuk satu kecupan saja? Matamu terpejam. Mataku menjelma malam. Aku bukan lagi seorang penanti. Aku kini adalah janji. Meski janji apapun sulit dipercayai akhir-akhir ini.

Bersama hujan, malampun turun. Bersama malam rinduku, Kegelisahan, dan Dendam, mengalun.