Bibirmu Yang Bergetar dan Matamu Yang Berbinar

Kemarin kita saling bertukar cerita dan tiba-tiba saja aku telah jatuh cinta. Kali ini bahkan berulang kali pada bibirmu yang bergetar dan matamu yang berbinar. Namun apa gerangan cinta itu? Apakah rindu yang kemudian menjadi candu? Ataukah langit dengan bulan dan bintang-bintangnya yang membisu?

Tanganku menggapai-gapai, mencoba melambai. Lantas aku teringat perbukitan yang landai dan angin yang memelukku mesra di tepi pantai. Bertahun-tahun yang lalu aku berkobar sebagai petualang. Kini aku hanyalah lelaki sabar yang mencoba mencari tempat berpulang.

Namun apa gerangan cinta itu? Apakah kegagapan hatiku di hadapan bibirmu yang benar-benar bergetar dan matamu yang benar-benar berbinar? Aku adalah penulis kisah kasih yang penuh dengan sejuta rintih. Seperti sejumput karang yang tunduk pada titah lautan, berjuang melawan perih. Sesederhana itukah rindu, saat ia perlahan dari candu beralih menjadi sendu?

Kemarin kita sudah saling melambai tapi masih saja ada sesuatu yang berderai-derai. Barangkali itulah bibirmu yang rapuh dan matamu yang teduh, menelusup dalam dan mendekapku dalam jatuh. Sungguh, aku ingin jatuh berkali-kali, dalam dekapan matamu yang bergetar dan bibirmu yang berbinar.

Iklan

Aku Meninggalkanmu

Aku meninggalkanmu di dalam mimpi

Kau sedang menari di dalam seribu janji

Rindu-rindumu yang serupa pelangi

Kata-katamu yang serupa mawar mewangi

***

Mengapa rindumu begitu harum dan ranum?

Mengapa senyumanmu begitu bening seumpama embun?

***

Aku meninggalkanmu di dalam sepi

Kau sedang memuja sesosok ilusi

Kisah kasihmu yang serupa cerita dunia peri

Nyanyianmu yang seirama dengan nafas pagi

***

Mengapa hanya cinta yang membuatmu redam

Mengapa hanya kata yang menusukmu dalam

***

Aku meninggalkanmu di dalam mati

Kau sedang mabuk meneguk nyawa sendiri

Rindu-rindumu yang serupa matahari

Nyanyianmu yang senada dengan senja hari

Ketika aku Hanyalah Hampa

Langit-langit tertawa terbahak-bahak
Malam-malam adalah dendam yang diam-diam
Mimpi-mimpi yang membisu
Para kekasih yang pura-pura tak tahu
Ruang melengang menjadi rindu yang terlantar
Sebagai saksi akan kepalsuan-kepalsuan
Sebagai resah akan pengkhianatan-pengkhianatan
Mengapa selalu dirimu yang memenuhi mata ini?
Dengan kerinduan-kerinduan yang berpendar-pendar pada malam-malamku yang berkabut
Tertanam dalam beribu-ribu mimpi
Beribu-ribu kepalsuan
Seperti senyumanmu
Seperti kecupanmu yang berbusa dan berbisa
Seperti rahasiamu yang tiada duanya
Malam-malam itu menjadi rahasia bagimu dan bagiku
Semilirnya yang dingin memberimu makna
Akan cinta yang bukan pura-pura
Kemudian dirimu bisa menjadi rupa
Dari bahagianya semesta.

Suatu Saat Ketika Kau Tiba-tiba Berbicara

Ketika itu senja baru saja menampakkan senyumannya. Angin berjalan pelan tanpa keriuhan. Mimpi-mimpi sedang dengan damai tertidur. Kamu tiba-tiba membangunkan cerita. Kisah-kisah lama dan kenangan penuh tanda tanya.

Tanda-tanda tanya itu kini kau hidangkan di hadapanku. Bersama segelas senyuman manis.

Aku tidak tahan dengan menunggu. Menunggu adalah bahan bacaan orang-orang kesepian. Sedang senja sudah tertawa-tawa dari tadi. Sedang sendu sudah bolak-balik menghampiri.

Ketika itu aku rasa dirimu tidak tahu apa-apa soal cinta. Matamu hanya bercerita tentang pelukan yang panjang dan bayang-bayang kematian. Pada sela-selanya kau bubuhkan airmata dan luka-luka. Aku selalu heran dengan kemampuanmu bertahan. Aku pikir bertahan itu hanya ada bagi dua manusia; yang terlupakan dan yang tanpa harapan.

Tiba-tiba bicaramu menjelma cumbu rayu. Tiba-tiba rindumu menjadi palsu, dan gagasanmu tentang cinta kini menjelma inti cerita.

Tidak kah engkau sadar bagaimana senja bisa saja menghapus semuanya? Termasuk kehangatan yang kita bangun diam-diam dan penuh dendam? Jangan pernah percaya kepada malam. Kau tidak pernah tahu apa yang bayang-bayangnya sembunyikan darimu. Bisa saja itu adalah rindu yang sudah siap-siap membunuhmu.

Aku, Stasiun, dan Sore Hari

***

I.

Siapa yang datang dan siapa yang pergi? Di kejauhan, awan mulai memerah. Angin dingin mulai memeluk tubuh-tubuh yang berhimpitan dalam letih dan lelah ini. Setiap orang membawa dunianya sendiri-sendiri di tangannya. Sedangkan duniaku tertinggal di kamar tidurmu.

II.

Banyak cerita yang tertampung dalam satu mata. Pada suatu tanda tanya aku menemukan seribu jawaban yang menusuk. Apa sore selalu semerindu ini? Kereta datang dan pergi dengan gempa dan gemuruh. Sedang aku datang dan pergi memanggul luka yang penuh.

III.

Aroma kopi dan roti di sudut sepi. Duniaku adalah candu bagimu. Tapi aku harus pergi sebelum matahari kembali. Kita sudah berjanji untuk tidak menghirup pagi yang sama. Namun sore ini aku terjebak dalam babak-babak yang malu-malu itu.

IV.

Ada senyum yang menikam mataku. Serupa sekuntum rindu yang ragu-ragu. Siapa yang datang dan siapa yang pergi? Setiap cerita selalu punya tanda tanya, dan setiap tanda tanya akan aku buka demi suatu cerita. Tidak, ini bukan rahasia. Ini cuma bisik-bisik semata, yang mesra dan sedikit manja. Akan segera hilang begitu malam tiba.

V.
Angin semakin syahdu. Aku semakin sendu. Aku masih punya sekotak air mata. Haruskah aku tuangkan semuanya di sini? Di tengah himpitan kelelahan dan keletihan ini, yang berbondong-bondong mendorong kereta, yang merobek menembus malam, yang tetap diam memikul angin, yang selalu datang bersama dingin, yang beku seperti matamu, yang masih setia dengan rahasia, yang sudah usang tertimbun usia. Lambaian selamat datang selalu mengalun di sini, tapi siapakah kelak yang akan mengucapkan selamat tinggal?

Catatan-catatan Yang Datang Padaku di Hari Ini

Aku pernah merasa akan menemukan cinta pada suatu tatapan mata. Namun hari-hari berlalu dan waktu tetap saja bisu. Hariku-hariku kini adalah rindu. Tapi rindu ke pada siapa? Rindu ke pada apa? Aku tidak pernah benar-benar tahu. Hanya sekelebat hasrat semata. Yang datang saat malam menjelang, dan pamit saat pagi tiba. Tanpa ada tanda, tanpa kecupan perpisahan apa-apa. Hanya gelora di dada, yang menemaniku melalui mimpi-mimpiku yang beku. Di mana dirimu adalah bidadarinya, sekaligus juga ketakutan-ketakutannya. Aku tak pernah benar-benar tahu.

Aku pernah merasa akan menjadi cinta pada suatu pelukan mesra. Namun hanya kehampaan yang ada. Memelukku dengan isaknya. Kepadaku ia bercerita, tentang rindu-rindu manusia. Rindu-rindu itu palsu, katanya. Apakah dirimu dapat meredam gelora hasrat yang ada di dadaku, tanyaku. Bisa saja, namun kau manusia, dia berkata. Kau akan merindukan rindu itu. Matahari meninggi, merangkaki hari yang bisu. Sedangkan aku masih saja larut di dalam semu. Tanpa ada dirimu di sana. Dirimu yang dahulu adalah kata-kata cinta, namun kini hanya senyumanmu yang tersisa. Apakah masih ada pintumu yang terbuka? Bagiku, bagi mimpi-mimpiku, bagi geloraku yang bisu. Aku tidak akan lagi  berkawan pura-pura dan tanda tanya. Segala sesuatunya akan aku selipkan di hatimu. Namun ke mana arah pandanganmu itu? Bukan ke hatiku.

Aku pernah merasa akan menjadi satu, denganmu. Dalam irama-irama yang hangat dan menggebu. Dalam detak-detik yang rapat dan laju. Dalam sentuhan-sentuhan lekat dan desahan yang ragu. Namun ke mana arah kerlinganmu itu?  Sudahlah. Sampai di sini saja. Semoga kau bahagia!

Kau yang Menyapaku Sore Itu

Kau menyapaku sore itu. Senyumanmu melambai. Waktu lantas berbisik padaku; inilah saatnya! Inikah saatnya? Hatiku yang selalu ragu mulai bertanya. Aku harus merangkai ungkapan yang sempurna, hatiku berkata. Tapi apalah arti ungkapan yang sempurna jika lidah mati rasa? Waktu lantas berlalu. Dengan kesal, tentu saja. Aku bahkan tidak sempat melambaikan kembali senyumanku. Apalagi menjabat tanganmu, dan bertanya apakah suami dan anak-anakmu baik-baik saja. Kau pernah bilang pada pertemuan terakhir kita yang melelahkan; inilah ini sebagaimana adanya. Aku tidak suka teka-teki tapi matamu selalu saja labirin yang menyimpan seribu rahasia. Aku tersesat di dalamnya. Di manakah kau sembunyikan cintaku? Sebab terakhir kali aku mengetuk pintumu tiada suara yang menjawab salamku. Hanya tawa-tawa riang anak-anak dan desahan-desahan samar di balik jendela. Aku pun berlalu bersama waktu. Dengan kesal, tentu saja.