Untukmu yang Datang di Mimpiku Pagi Ini

Di sinilah segala macam jenis cinta itu mekar berbunga

Di bawah sinar matahari yang rindu akan pelukan pagi

Angin yang berhembus

Mengembuskan kata-kata

Ungkapan-ungkapan rindu yang selalu saja syahdu

Di sini aku membaca pertanda

Aku juga mengeja air mata

Semua luka aku catat

Dalam buku harian usang bersampul biru

Buku yang berjudul namamu

Aku bukanlah pemimpi

Apalagi penanti

Aku adalah pengkhayal yang mengkhayalkan pelangi

Perahu layar dan danau di tengah hutan yang sunyi

Aku ingin kau membebaskanku dari malam

Aku melihat senja jatuh di matamu dan aku mencintai itu

Aku ingin aku membebaskanmu dari dendam

Di sini cinta bukan hanya akan menjelma tawa

Melainkan setiap kata yang ada adalah makna

Makna yang merdeka.

Kepada Hujan Ini

Kepada hujan ini aku ingin bercerita. Kegelisahan yang merayap menguasai diri sejak semalam. Ada dirimu di sana. Dalam kepasrahan dan kepalsuan. Dengan rindu dan dendam.

Ada diriku di sana. Dengan cinta yang kau sembunyikan. Dengan harapan yang coba kau kubur dengan tangisan. Kepada hujan ini aku menyanyikan sendu. Tentang pikiran-pikiran yang asing. Tentang kesunyian yang begitu bising. Pada akhirnya hanya ada apa? Ada dan tiada satu dalam semu. Aku dan kamu hanya kita yang membisu.

Dingin ini menelanjangiku. Kepada Hujan ini aku menggerutu. Masih cukupkah waktu untuk satu kecupan saja? Matamu terpejam. Mataku menjelma malam. Aku bukan lagi seorang penanti. Aku kini adalah janji. Meski janji apapun sulit dipercayai akhir-akhir ini.

Bersama hujan, malampun turun. Bersama malam rinduku, Kegelisahan, dan Dendam, mengalun.

BIARKAN |

Biarkan aku menyapu sisa-sisa hujan dari matamu dengan kehangatanku

Biarkan aku memberimu fajar sebagai pengganti malam-malammu yang yang pilu oleh kenangan, dan beku oleh kesepian

Biarkan aku memberimu musim semi setelah berbagai badai menggugurkan setiap lembar harapan yang kau punya

Biarkan aku menjadi nahkoda yang akan berlabuh di dermagamu dan merangkul tanganmu untuk melayari kehidupan yang baru.

Aku Menunggu… 

​Aku menunggu hujan reda dari dadamu dan menunggu malam redup dari matamu. Inilah yang aku rinaikan untukmu;

Aku bukanlah seorang kapitan yang akan menjemputmu dengan sehunus pedang dan seribu satu kerinduan. Aku datang dengan kemalangan. Aku tak akan mengajakmu mengarungi lautan dengan seribu satu roman. Aku menawarimu setumpuk buku dan pojok yang damai di sudut perpustakaan.

Kau tahu, kaulah dongeng-dongeng yang selama ini aku baca; tentang Putri yang jatuh tertidur dan matahari yang terlambat bangun. Aku dapat membangunkan langit untukmu, sebagai sebuah singasana atau sekedar pelepas lelah belaka.

Tapi aku tidak butuh setumpuk permata untuk itu. Aku hanya butuh sedikit khayalan, dan banyak keberanian. Tidak ada yang tidak mungkin, orang berkata. Bagiku, kaulah segala kemungkinan yang aku punya. 

Malam Ingin… 

Malam ingin mengambilmu dariku. Nafasmu yang harum menarik hatinya selalu.
Malam ingin memelukmu dengan lengannya yang dingin, sebagai ganti pelukanku yang beraroma musim panas. Tubuhmu yang mutiara memukau matanya selalu.
Malam ingin memberimu mimpi yang lebih indah dari mimpi-mimpi yang selama ini aku beri untukmu. Cintamu yang teduh menyalakan hasratnya selalu.

Aku takkan takluk oleh Malam, meski itu berarti melayari seribu satu badai.
Aku takkan luruh dilebur oleh Kegelapan, meski itu adalah musim semi yang takkan pernah lagi kembali.
Aku takkan beku dicengkeram Dingin, meski itu menjelma beribu-beribu bulan yang tak kunjung usai.

Aku, takkan tunduk oleh Malam.

Ketika Malam… 

​Ketika malam meruntuhi bumi aku terjebak dalam kegelapan dan tak mampu bangun dari mimpiku sendiri. 

Semua terasa hampa dalam Kebingungan tanpa dasar. Aku berselimut kegelapan. Kegelapan itu memelukku dalam diam. Dia melagukan kesunyian. Suaranya dalam dan menyayat-nyayat hati. Aku dimangsa keraguan yang tumbuh dari lubang hitam pengetahuan. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak kenal siapa-siapa. Selain cintamu yang samar-samar dan mulai lekang. 

Ketika malam menggagahi bumi aku terjerembab dalam kegilaan dan tak mampu mengeja namaku sendiri. Waktu menjelma potongan-potongan kartu yang tersusun secara acak dalam ingatanku. Bintang-bintang mengaliri langit, menenggelamkan aku dalam khayalan dan fatamorgana. Semua luntur oleh Kepalsuan. 

Mendung

Langit mendung. Barangkali murung. Aku menung. Berkas-berkas cahaya memancar di kejauhan, seperti harapan yang rapuh namun selalu dipaksakan.

Aku pulang dari mimpi yang panjang. Mimpimu, khayalan yang telanjang. Aku menggigil dalam kesepian, tanpa kawan seperjalanan. Tanpa rumah untuk dirindukan.

Langit mulai menangis. Rintik-rintiknya yang sedih mengiris-ngiris anak manusia di jalan-jalan ibukota. Angin bersuka ria. Daun-daun menari sembari memeluknya. Semua bergerak dalam abu-abu yang kabur. Tirai kabut menghalangi mata siapapun dari menjangkau matahari.

Aku tenggelam dalam nada. Dadaku telah sedari lama dibanjiri air mata. Aku tersesat dalam deras hujan ini. Meski aku sendiri tak pernah benar mengerti, apa sebenarnya yang aku cari.

Aku seperti melihat malaikatmu pada setiap kilatan itu. Sepertinya ia mencari-cariku. Apakah karena akhir-akhir ini aku selalu melupakanmu?

Langit hidup kembali. Setelah menangis sedari pagi. Aku terjebak dalam cahaya. Aku buta olehnya. Tanganku menggenggam hampa. Menyentuh keberadaan yang perlahan memudar. Seakan seribu cinta pun tak sanggup untuk membuatnya takluk ke dalam terang. Dia hilang perlahan-lahan. Menuju peraduan di balik malam.